Sejarah Menentukan Waktu Sholat 5 Waktu

Sejarah Menentukan Waktu Sholat 5 Waktu

Sejarah Menentukan Waktu Sholat 5 Waktu 2768 1854 Januar

Salat lima waktu sehari semalam wajib kita kerjakan sebagai seorang muslim. Namun, pernahkah kita bertanya-tanya bagaimana sejarah cara menentukan lima waktu dalam 24 jam tersebut?

Misalnya, mengapa salat Subuh di pagi buta, lalu Zuhur di siang hari dan seterusnya?

Untuk itu umat muslim membutuhkan sesuatu hal untuk dapat menentukan waktu sholat. Mereka menggunakan jam matahari yang ditemukan saat ekspansi ke Yunani pada abad ketujuh masehi. Umat Muslim menggunakan jam matahari untuk mengukur jarak dan waktu sholat. 

Jam matahari dianggap sebagai salah satu mesin pengukur waktu tertua karena sejarahnya berasal dari 3500 SM. Ini adalah alat untuk menentukan waktu dengan bayangan suatu benda.  

Bayangan ini akan berubah sesuai dengan perubahan posisi dan jalur matahari. Pada siang hari, ditentukan oleh panjang bayangan yang terpendek.  

Penggunaan jam matahari, waktu ditunjukkan berdasarkan pergerakan matahari di meridian. Dasar kerja jam matahari yakni lewat perubahan panjang dan arah bayangan pada siang hari. Di belahan bumi utara, arah bayangan pagi ke barat dan siang ke utara. Sedangkan sore ke arah timur.

Ada juga riwayat dari Jabir bin Abdullah ra yang mengisahkan tentang penentuan waktu-waktu salat itu.

Suatu siang, sebelum matahari tepat di atas titik tertinggi, Rasulullah saw didatangi oleh malaikat Jibril.

Jibril berkata, “Bangunlah wahai Rasulullah, lakukanlah salat.”

Kemudian Nabi saw bangun dan mendirikan salat Zuhur.

Setelah itu, saat bayang-bayang mulai tampak lebih panjang dari benda aslinya, malaikat Jibril kembali berkata, “Bangunlah dan lakukan salat lagi.”

Perintah kedua dari Jibril inilah yang menjadi asal-usul salat Asar dilakukan seusai waktu salat Zuhur habis.

Selanjutnya, lagi-lagi malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad saat matahari mulai tenggelam, “Bangunlah, salat lagi.”

Nabi kemudian bangun dan mendirikan salat Magrib sebanyak tiga rakaat.

Perintah Jibril yang serupa kembali dilakukan tak lama setelah salat Magrib usai untuk mengerjakan salat Isya.

Terakhir, saat Subuh menjelang, Jibril kembali berkata, Jibril berkata, “Bangunlah wahai Rasulullah dan lakukanlah salat.”

Maka Rasulullah saw melakukan salat Subuh ketika waktu fajar menjelang. (HR Ahmad, Nasa’i dan Tirmidzi)

Begitulah matahari menjadi salah satu tanda kebesaran Allah yang berguna untuk menentukan waktu. Sedangkan di zaman sekarang, kita patut bersyukur karena kecanggihan teknologi dapat mengingatkan waktu salat tanpa harus melihat bayang-bayang matahari.

 

WhatsApp WhatsApp Kami