Sejarah Adzan Pertama Berkumandang

Sejarah Adzan Pertama Berkumandang

Sejarah Adzan Pertama Berkumandang 700 587 Januar

 Suara adzan mungkin sudah tidak asing lagi di telinga umat Muslim, terutama mereka yang tinggal di negara mayoritas Muslim. Umat Islam tentunya telah memahami bahwa adzan adalah panggilan untuk melaksanakan sholat.

Adzan dikumandangkan sedikitnya lima kali dalam sehari semalam, sesuai sholat lima waktu. Sehingga umat Islam mengetahui waktu sholat telah tiba melalui kumandang adzan.

Munculnya adzan sebagai panggilan untuk menunaikan sholat tak lepas dari Bilal bin Rabah, sahabat yang sangat dicintai oleh Nabi Muhammad SAW. Bilal, sang muadzin pertama dalam Islam yang ditunjuk langsung Rasulullah mengumandangkan kalimat suci.

Adzan pertama muncul pada awal-awal Nabi Muhammad dan para sahabatnya hijrah ke Madinah yang dulu bernama Yastrib. Saat di Makkah, kaum Muslimin beribadah secara sendiri-sendiri tanpa ada seruan adzan.

Mengutip riwayat dari Ibnu Umar menuturkan, para Muhajirin dari Makkah yang baru tiba di Madinah berkumpul dengan masyarakat Ansar, penduduk asli Madinah, yang sudah memeluk Islam.

Ansar terdiri dari suku Aus dan Khazraj. Kedua suku berasal dari Yaman itu tinggal di gurun Yastrib dan sering berperang sebelum datangnya Islam. Aus dan Khazraj tak pernah akur karena kerap diadu adu domba oleh Yahudi dari Bani Quraizah, Qainuq dan Nazir yang tinggal di Yastrib saat itu.

Nabi Muhammad menyatukan Aus-Kazraj dan memberi gelar kepada mereka sebagai Ansarullah atau penolong agama Allah. Kaum Ansar terkenal kuat sekaligus pemberani, sehingga Nabi dan para sahabatnya yang sebelumnya kerap disakiti kafir Quraisy di Makkah kini bisa hidup tenang dalam perlindungan mereka.

 

“Ketika kaum Muslimin tiba di Madinah, mereka (Muhajirin dan Ansar) berkumpul, mereka menunggu sholat tanpa ada panggilan khusus.

Suatu hari mereka berbincang soal bagaimana agar ada panggilan khusus untuk sholat. Bangsa Romawi yang beragama Nasrani menggunakan lonceng sebagai tanda panggilan ibadah, sedang Yahudi memakai terompet. Bagaimana dengan Islam?

“Sebagian mereka berkata gunakan saja lonceng seperti lonceng orang-orang Nasrani, sebagian yang lain berkata gunakan saja terompet seperti yang digunakan orang-orang Yahudi,”

Umar bin Khatab lalu menimpali “kenapa kalian tidak memilih seseorang untuk menyerukan sholat.”

Mendengar itu, Rasulullah menatap ke arah Bilal bin Rabah sambil berkata “wahai Bilal, berdirilah dan serukan panggilan salat.”

Riwayat lain menyebutkan, Nabi Muhammad sempat mau menggunakan terompet untuk panggilan sholat, tapi beliau tidak suka. Kemudian Nabi menyuruh membuat lonceng seperti Nasrani dengan cara dipahat agar bisa dipukul sebagai tanda tibanya waktu sholat.

Namun, belum sempat digunakan lonceng itu, ada seorang bernama Abdullah bin Zaid bin Salabah dari Bani Al Harits suku Khazraj bermimpi. Setelah bangun, lelaki Ansar itu bergegas menemui Nabi Muhammad menceritakan yang dialaminya.

“Wahai Rasulullah, tadi malam dalam mimpi seseorang mengelilingiku, seorang laki-laki melewatiku, dia memakai dua kain hijau dan membawa lonceng di tangannya. Aku berkata kepadanya ‘wahai hamba Allah, apakah engkau akan menjual lonceng ini untukku?”

Lalu orang itu bertanya kepada Abdullah “apa yang akan engkau lakukan dengannya?”

“Kami menggunakannya untuk memanggil sholat,” jawab Abdullah dalam mimpinya.

Maka orang itu berkata, “maukah kau kutunjukkan yang lebih baik dari lonceng ini?”

“Apa itu?” tanya Abdullah lagi.

“Lalu orang itu mengajarkan kepadaku kalimat, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Asyhadu anlaa ilaha illallaah, asyhadu anlaa ilaha illallaah. Asyhadu anna Muhammadan rasuulullah, asyhadu anna Muhammadan rasuulullah. Hayya ‘alashshalaah, hayya ‘alashshalaah. Hayya ‘alalfalaah, hayya ‘alalfalaah. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaah,” tutur Abdullah.

Setelah mendengar Abdullah, Rasulullah bersabda, “sesungguhnya iya adalah mimpi yang benar insya Allah, ajarkan kepada Bilal lafaz azan itu agar dia yang azan, karena Bilal lebih nyaring dan lebih bagus suaranya darimu.”

Ketika Bilal bin Rabah mau mengumandangkan adzan, Umar bin Khatab dan beberapa sahabat yang lain berkata kepada Rasulullah, “wahai Nabi Allah demi zat yang mengutusmu dengan kebenaran sungguh aku juga bermimpi seperti ini.”

Mendengar perkataan Umar dan para sahabat lain, Rasulullah berkata “segala puji bagi Allah atas smua itu.”

Setelah peristiwa itu, adzan pun dijadikan sebagai panggilan ibadah bagi kaum Muslim sampai hari kiamat.

Bilal bin Rabah terus menjadi muadzin bahkan saat penaklukkan Kota Makkah, Nabi Muhammad memerintahkan sahabatnya itu untuk mengumandangkan adzan di atas Kakbah, sebuah kehormatan baginya.

Penduduk Makkah saat itu tekagun-kagum dengan Bilal yang dulunya seorang budak dan kerap disiksa oleh kafir Quraisy, kini malah dipercaya naik ke Kakbah. Islam mengangkat derajat dan kedudukan Bilal.

Setelah Rasulullah SAW wafat, Bilal pun memohon kepada Khalifah Abu Bakar As Siddiq untuk tidak jadi muadzin lagi. Bilal tak kuasa lagi mengumandang adzan, karena tiap kali mencoba adzan beliau langsung menangis sesunggukan teringat Nabi Muhammad.

Sumber : akun Youtube Ustadz Khalid Basalamah Official

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

WhatsApp WhatsApp Kami